Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2020

Lelaki Misik

Oleh: Ade Zaenudin

Dikisahkan ada seorang pemuda tampan berprofesi sebagai pedagang keliling.Ketampanannya begitu menarik perhatian para wanita, sampai satu saat ada seorang wanita menjebaknya.

Wahai pemuda, datanglah kemari, masuklah ke rumahku, aku ingin membeli barang daganganmu. Kata sang wanita.

Ketika pemuda tersebut masuk rumah, seketika itu pula pintunya dikunci.

Wanita itu kemudian mengerahkan rayuan mautnya, dengan harapan sang pemuda jatuh dipelukannya.

Pemuda itu bingung, bagaimana agar terhindar dari jebakan tersebut?

Sang Pemuda berkata, baiklah kalau memang itu keinginanmu, berikan kesempatan aku untuk mandi terlebih dahulu biar wangi.

Ketika di kamar mandi, dia melumuri badannya dengan kotorannya sendiri. Keluarlah pemuda tersebut dari kamar mandi, dan berkata, wahai wanita, ayo saya sudah siap. Melihat badan berlumur kotoran, wanita tersebut merasa jijik, muntah lalu kemudian mengusirnya.

Singkat cerita pemuda tersebut membersihkan badannya kembali, dan ajaibnya setelah itu badannya malah wangi sewangi minyak misik. Subhanalloh.

Kamis, 08 Oktober 2020

Manisnya Jebakan Manis


Oleh: Ade Zaenudin

 

Segelas susu habis beberapa menit saja pagi ini, menyertai belajar secara virtual bersama sahabat seperjuangan.

Astagfirullah…

Ternyata dalam waktu sekejap, tetesan susu sisa di gelas sudah berubah menjadi bencana, merenggut nyawa.

Manis yang tersisa di lidah, lenyap seketika. Keringat dingin tersisa merubah rasa.

Sekelompok kawanan semut terjebak di dalam gelas.

Saya membayangkan maksud mereka, saya yakin niatnya adalah untuk memperpanjang nyawa, mencari makan, namun justru malah sebaliknya, hilang nyawa.

Sejenak saya berfikir, siapapun akan berjuang demi memenuhi kebutuhan. Segenap pengetahuan dan pengalaman sejatinya menjadi modal untuk melangkah, sebelum terjebak dalam ganasnya kehidupan.

Bayangan saya tertuju mencari semut mana yang pertama kali terjebak, entahlah? Lalu saya bertanya kenapa yang belakangan terjebak juga padahal kawannya sudah duluan terjebak. Inilah pentingnya berliterasi, belajar pada keadaan dan peka terhadap situasi, walau itu bukan jaminan keselamatan.

Saya mencoba berhusnudzan, yang terjebak pertama kali memang karena ketidaktahuan, dan yang selanjutnya mau mencoba menyelamatkan, saya tahu bagaimana karakter semut, gotong royongnya patut jadi teladan. Namun demikian, niat baik tidak selamanya berakibat baik. Kalau sudah demikian, maka mari kita bertawakkal, takdir Allah tak akan bisa dilawan.

 Jika hidup ini dihadapkan pada pilihan manis dan pahit, maka saya semakin yakin bahwa tidak selamanya yang manis itu mendatangkan kenikmatan.

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini semua, apakah rasa manis yang mengundang bencana, menipu kawanan semut? Belum tentu. Andai rasa manis itu tidak bercampur air, semut itu bisa saja selamat, sayang gula yang menjad incaran semut sudah larut dalam air.

Kalau begitu airlah yang bertanggung jawab! Rasanya bukan juga, air pasti membela diri, siapa suruh saya dilarutkan dengan gula dan disimpan dalam gelas. Gelaspun dengan “mata tajam” seolah membentak saya, kenapa kau sisakan tetesan air padaku, andai saja kau jilat tetesan susu tak tersisa, atau segera kau cuci aku, pasti tidak aka nada korban nyawa.

Ya Allah…

Anda ini semua dosaku, aku hanya bisa meminta maaf lewat tulisan ini.

Astagfirullohaladhim wa atubu ilaih.

Bimtek Kurikulum secara Virtual pun akhirnya tuntas, tersisa memori kelam, gugurnya kawanan semut yang tak berdosa. Astagfirullohaladhim.

Ruang guru, 8 Oktober 2020

Minggu, 31 Mei 2020

SALAT BAPER


Sumber Gambar: turospustaka.com
Oleh: Ade Zaenudin

Dalam kitab Sirojut Tholibin, dikisahkan seorang murid memimpikan gurunya, sesaat setelah gurunya tersebut wafat. Sang guru adalah seorang ulama sufi bernama syekh Hasan Bashri.

Bagaimana kabarnya guru? Sang murid bertanya di mimpi itu

Hampir saja aku ditolak oleh Allah swt, penyebabnya adalah ketika saya salat di hadapan orang banyak, maka bacaan salat saya bagus-baguskan, saya lama-lamakan, saya enak-enakkan.

Lalu, Allah Swt menyampaikan kepadaku, [seandainya dari awal kamu salah, maka aku tidak sudi melihat kamu, akan tetapi karena niat di awal salat kamu bagus maka Aku maafkan]. Ketika di awal salat aku selalu berniat lillahi ta’ala, hanya karena Allah Swt.

Beruntung Syekh Hasan Basri, akhirnya Allah selamatkan karena niat yang baik.

Pernah kita merasakan ketika salat di masjid sendirian, lalu ada yang makmum masbuk dan tiba-tiba kita lebih mengkhusyukan salat, membaguskan bacaan, atau jadi memperlama durasi setiap rukun salat?

Pointnya adalah ada perbedaan antara ketika dilihat orang dan tidak dilihat orang.

Dalam posisi itu, kita tidak sadar bahwa sesungguhnya ada atau tidak ada orang lain, kita sedang dilihat sama Allah Swt. Namun kenapa kita lebih malu sama manusia.

Ya, di sini kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang salat saja belum tentu akan selamat, apalagi yang tidak pernah mau melakukan salat. Kita bisa perdalam lagi hal ini melalui surah al-Ma’un.

Point yang kedua adalah bahwa niat itu punya peran strategis. Maka yang ideal adalah bagaimana memadukan antara niat dan pelaksanaan, keduanya harus baik dan semata hanya karena menjalankan perintah Allah.

Mungkin sebagian kita pernah digelayuti pertanyaan ngeyel, kenapa salat harus menghadap ka’bah? kenapa tidak menghadap monas saja? padahal sama-sama bangunan yang terbuat dari batu.

Kita salat menghadap ka’bah bukan karena menyembah batu, bukan pula kita punya anggapan bahwa Allah Swt berada di dalam ka’bah. Bukan. Alasannya cuma satu, karena Allah Swt menyuruh kita salat menghadap ke arah masjidil haram (ka’bah) yang tertuang dalam surah al-Baqarah ayat 144.

Anda saja Allah Swt menyuruh kita salat menghadap monas, maka pasti akan kita lakukan. Bahkan sebaliknya, jika tidak pernah ada perintah salat, buat apa kita lakukan?

Kita bisa bayangkan, kalau lah tidak ada perintah menghadap kiblat, maka bisa jadi kita salat ke arah mana saja, semaunya, bisa berantakan, beradu kepala sesama jamaah saat ruku’ atau sujud. Hehe… kan aneh.

Di doa iftitah yang kita baca setiap awal salat, kita senantiasa menegaskan, Innii wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal ardi (Sesungguhnya aku hadapkan wajahku ke hadapan Allah yang menciptakan langit dan bumi). Kita pun secara tegas menyatakan Inna salati, wanusukii, wa mahyaaya wa mamaati, lillahi robbil alamin. (Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam.

Jadi, kalau salat gak usah baper, hehe…

Wassalam
8 Syawal 1441 H. 

Kamis, 30 April 2020

Muhammad Ali dan Sang Bodyguard

Oleh: Ade Zaenudin 

Siapa yang tidak kenal Muhammad Ali, petinju legendaris kelas dunia asal Amerika Serikat.

Dalam sebuah wawancara, Muhammad Ali mendapatkan pertanyaan, Apakah Anda punya bodyguard? Dengan ekspresi serius (agak gimanaa gituh) dan seolah jarinya menghitung satu… dua… tiga… (pura-pura menghitung), lalu tersenyum dan membuka matanya.

Muhammad Ali menjawab.

Saya punya satu bodyguard.
DIA tidak  punya mata, tapi DIA melihat.
DIA tidak punya telinga, tapi DIA mendengar.
DIA ingat semua hal dengan ingatan yang kuat.
Kalau DIA ingin sesuatu, DIA tinggal menciptakannya dan langsung jadi.
Pengikutnya patuh dan DIA tahu apa yang orang bicarakan.
DIA tahu semua rahasia bahkan yang ada di dalam benak.
Siapa DIA?
DIA adalah ALLAH.
DIA adalah bodyguard saya
DIA adalah bodyguard Anda

Jawaban yang luar biasa cerdas dan “bergizi tinggi”.

Seperti kita ketahui, salah satu asma’ul husna adalah Al-Mu'min, Allah Maha Memberi Rasa Aman. Allah adalah bodyguard kita semua.

Kalau presiden, artis, pejabat, atau orang kaya punya bodyguard, maka bodyguard mereka adalah bodyguard biasa saja. Mereka masih sebatas manusia, bekerja atas dasar pamrih, atas dasar gaji dan bekerja sesuai perintah sang majikan.

Allah bukan bodyguard biasa, tidak bekerja atas dasar perintah, bukan pula karena pamrih ataupun gaji.

Persoalannya adalah berapa banyak manusia yang memiliki keyakinan (keimanan) yang tinggi bahwa Allah benar-benar melindungi kita, seperti keyakinan Muhammad Ali yang begitu mantap. Tidak sedikit manusia yang lebih percaya pada manusia lagi, bukan pada Sang Pembuat manusia. Keyakian yang semu.

Manusia sering kali lebih mengedepankan logika dan apa yang terlihat mata, dibanding keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Pernahkah terpikir oleh kita?

Betapa Allah melindungi sel-sel otak kita yang sangat rentan dengan batok tengkorak yang begitu keras.

Allah lindungi jantung kita dengan deretan tulang rusuk yang begitu sempurna.

Allah tumbuhkan bulu mata untuk menjaga dari debu yang beterbangan.

Allah tumbuhkan bulu hidung untuk menjaga sirkulasi udara yang masuk ke hidung dan paru-paru.

Siapa yang menjaga agar darah tidak keluar dari berbagai lubang, padahal ada banyak lubang dalam diri manusia, berapa juta lubang pori-pori yang biasa mengeluarkan keringat.

Siapa yang menjaga agar kotoran atau air kencing tidak keluar mengucur begitu saja dari tempat pembuangan padahal tak berpintu dan tak dikunci.

Subhanalloh, itu baru yang nampak dan sangat dekat dari diri kita, belum sampai kondisi peredaran alam semesta yang begitu teratur dan tertata.

Ya Allah… Ya Mu’miin…

Wallohu a’lam

Kalideres, 7 Ramadhan 1441 H.

Senin, 23 Maret 2020

BERTAHIYAT SAAT ISRA MIRAJ


Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril AS terbius mega cahaya yang terdiri dari berbagai warna saat melewati sidratul muntaha di malam Isra Mi’raj.

Jibril pun terdiam menghentikan langkahnya.

Wahai Jibril, jangan kau biarkan aku berjalan sendirian. Pinta Nabi.

Melangkahlah Jibril mendekati Nabi. Allohu akbar, selangkah saja hampir menyebabkan Jibril terbakar cahaya. Badan Jibril tiba-tiba mengecil. Subhanalloh hal itu tidak terjadi pada Nabi.

Jibril berpesan agar Nabi memberi salam kepada Allah SWT jika sudah sampai di Khithob (tempat komunikasi).

Nabi SAW: Attahiyyatul mubarokaatush Sholawatuth thoyyibaatu lillah. Kesejahteraan, keberkahan, dan sholawat yang baik adalah milik Allah SWT

Allah SWT: Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warohmatullohi wabarokaatuh. Keselamatan, Rahmat Allah dan berkah-Nya atasmu wahai Nabi.

Merasa mendapat penghormatan luar biasa dari Allah, Nabi tidak mau penghormatan ini hanya untuk dirinya sendiri, Nabi ingin hamba-hamba  Allah yang saleh juga mendapatkan penghormatan ini.

Nabi pun menjawab: Assalamu ‘alaina wa alaa ibadillahish sholihin. Keselamatan semoga untuk kami dan juga untuk hamba-hamba-Mu yang saleh.

Mendengar percakapan itu penduduk langit dan bumi pun bersyahadat: Asyhadu anla ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadar-rosuululloh. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Subhanalloh, walhamdulillah, walaailaha illaloh, wallohu akbar.

Ade Zen. 27 Rajab 1441 H.
Lihat kitab Kasyifatus Saja Syekh Imam Nawawi pasal Tasydid Tasyahud

Kamis, 29 Maret 2012

KH. Saifudin Amsir ketika menjadi pembicara di TVRI tanggal 25 Maret 2012 menyampaikan sebuah kisah yang kurang lebih isinya sebagai berikut:
Dalam sebuah keterangan ada seorang dai yang menyampaikan ceramahnya dengan nada sesumbar, dia berkata: "silahkan tanyakan apapun kepada saya termasuk apa yang ada di Arasy". Pada saat itu justru yang bertanya adalah seorang anak kecil dengan pertanyaan sederhana namun menggelitik, " wahai sang dai, saya tidak akan bertanya apa yang ada di arasy, yang saya tanyakan apakah jenggot anda jumlahnya ganjil atau genap".
Sang dai yang biasanya bernada agak sombong justru tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, dan justru sang anak kecil tersebut yang menjawab pertanyaannya sendiri. " Wahai sang dai, bukankah Allah swt menciptakan makhluk berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan dan seterusnya, kalau begitu berarti jenggot anda juga jumlahnya genap".
Kisah ini menggambarkan bahwa manusia tidak layak sombong, seberapa tinggipun ilmu yang kita miliki.

Kamis, 29 September 2011

Kemuliaan Mengalahkan Kebencian

Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Kamis, 29 September 2011

Adi bin Hatim adalah kepala suku Thai yang disegani. Dia mewarisi kepemimpinan bapaknya. Sebagaimana kepala suku, Adi menerima seperempat penghasilan kaumnya sebagai pajak. Hidupnya tenang dengan kekayaan yang melimpah.

Dia sangat membenci Rasulullah SAW, kendati dia belum pernah bertemu. Adi semakin gelisah setelah mendengar kabar pengaruh Rasulullah semakin kuat di jazirah Arabia. Beberapa kepala suku sudah memeluk Islam dan bergabung dengan Madinah. Adi khawatir kedatangan Rasulullah SAW akan mengancam kepemimpinannya.

Satu hari, hamba sahayanya melaporkan bahwa dia melihat bendera tentara Muhammad di sekeliling perkampungan mereka. Dengan tergesa-gesa, Adi mengumpulkan keluarganya dan segera lari meninggalkan Thai menuju utara, Syam. Tetapi, saudara perempuannya tertinggal. Dia tidak berani kembali. Dia hanya bisa berharap saudara perempuannya dapat menyusul.

Harapannya terpenuhi. Saudara perempuannya muncul bersama rombongan yang baru datang dari Madinah, sambil marah. "Engkau tinggalkan kami. Engkau zalim. Istri dan anak-anakmu engkau bawa, tetapi saudara perempuanmu dan yang lainnya engkau tinggalkan." Adi berusaha menenangkan kemarahan saudara perempuannya. Setelah tenang, dia bercerita akan kemuliaan Nabi Muhammad.

"Setelah negeri kita diserang, aku dan berapa penduduk lain dibawa ke Madinah," kata saudara perempuannya itu. "Di sana kami ditawan di dekat masjid. Ketika Rasulullah lewat aku menyapanya. Wahai Rasulullah. Bapakku telah tiada, yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda." Rasulullah bertanya, "Siapa yang menjamin engkau?" Aku menjawab, "Adi bin Hatim." Kata Rasulullah, "Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya."

Kemudian, Rasul SAW berlalu. Besoknya, terjadi lagi dialog yang sama. "Pada hari ketiga, Rasulullah lewat tetapi aku tidak menyapa beliau lagi sampai seorang laki-laki -yang kemudian kuketahui adalah Ali bin Abi Thalib- memberi isyarat kepadaku untuk menyapa beliau. Kali ketiga itulah permintaanku dipenuhi. Rasulullah berkata, "Engkau jangan terburu-buru pergi sebelum engkau dapatkan orang yang dapat dipercaya untuk mengantarkanmu." Setelah mendapatkan orang yang dipercaya, Rasulullah memberiku pakaian, unta untuk kendaraan, dan belanja secukupnya. Akhirnya dengan rombongan yang dipercaya, aku sampai di sini," tuturnya.

Adi disarankan untuk menemui Rasulullah. "Datangilah segera. Jika dia seorang Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya akan beruntung. Dan jika dia seorang raja, tidak ada hinanya engkau berada di sampingnya. Engkau juga seorang raja."

Akhirnya Adi pergi ke Madinah. Dia masuk ke majelis Nabi SAW ketika beliau berada di masjid. Mengetahui yang datang adalah Adi bin Hatim, Rasulullah berdiri menyongsongnya. Menggandeng tangan Adi, membawanya ke rumah beliau, dipersilakan duduk di atas bantal kulit. Sedangkan Rasulullah sendiri duduk di tikar biasa. Adi berguman, "Ini bukan kebiasaan raja-raja."

Setelah berdialog beberapa saat akhirnya Adi mengucapkan dua kalimah syahadat. Kebenciannya luluh oleh kemuliaan hati Rasulullah SAW.

Sabtu, 21 Mei 2011

Sang Kepala Negara

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Sumber : Kolom Hikmah Republika
Sabtu, 30 April 2011

Beberapa kali Abdurrahman bin Auf menyaksikan Umar shalat sunah di rumahnya. Yang menarik perhatiannya, bukanlah tata cara shalatnya, melainkan sajadah yang biasa digunakan Umar. Seorang kepala kegara dengan wilayah kekuasaan yang membentang luas sampai Mesir, berhasil mengalahkan dua imperium besar, Romawi Timur dan Persia, justru shalat di atas sajadah yang usang. Timbul rasa bersalah dalam hati Abdurrahman. Ia ingin membelikan sajadah baru yang mahal dan indah untuk sang Amirul Mukminin.

Tetapi, Abdurrahman ragu, apakah Umar mau menerimanya. Dia tahu persis watak Umar yang tidak mau diberi hadiah apa pun walau hanya selembar sajadah.


Abdurrahman akhirnya memberikan sebuah sajadah melalui istri Umar, Ummu Abdillah. Melihat sajadah baru, Umar memanggil istrinya dan menanyakan siapa yang memberi sajadah ini. "Abdurrahman bin Auf," jawab istrinya. "Kembalikan sajadah ini kepada Abdurrahman. Saya sudah cukup puas dengan sajadah yang saya miliki." Begitulah watak Umar bin Khattab. Tidak hanya adil dan bijaksana, beliau dikenal dengan sifat zuhudnya, hidup sederhana. Tidak hanya untuk ukuran seorang kepala negara, bahkan bagi orang biasa sekalipun.

Suatu hari, Umar melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur, "Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh rakyatmu?"

Dengan gugup, sang gubernur menjawab, "Tentu tidak, wahai Amirul Mukmini. Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda." Umar lantas berdiri dan bersuara keras, "Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini, baru saya akan memakannya." Itulah sifat Umar bin Khattab, seorang kepala negara yang zuhud.

Di lain kesempatan, sehabis shalat Zhuhur, Umar meminta selembar permadani Persia yang indah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tentu saja, hal ini membuat para sahabat heran. Hari itu, Umar bin Khattab membagi harta rampasan perang yang dibawa oleh pasukan Sa'ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan Kota Madain, ibu kota imperium Persia.

Pakaian kebesaran Kisra lengkap dengan mahkotanya diberikan oleh Umar kepada seorang Badui yang kemudian memakainya dengan gembira. Satu demi satu barang-barang berharga dibagi-bagikan oleh Umar kepada para sahabat dan masyarakat banyak waktu itu. Yang tersisa hanya selembar permadani indah. Umar pun memintanya. "Bagaimana pendapat kalian, jika permadani ini aku bawa pulang ke rumahku?" Gembira bercampur kaget, para sahabat tergopoh-gopoh menyetujuinya. "Tentu saja wahai Amirul Mukminin, kami setuju sekali Anda membawanya pulang."

Ketika tiba waktu Ashar, Umar membawa kembali permadani tersebut. Kali ini, permadani itu sudah dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil, dan Umar membagikan kepada beberapa sahabatnya. Dengan senyum, Umar berkata, "Hampir saja saya tergoda oleh permadani indah ini." Masya Allah, begitulah Umar, sang kepala negara.

Selasa, 19 April 2011

Sang Gubernur

Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Senin, 18 April 2011

Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Said bin Amir menjadi gubernur di Provinsi Himash. Ia pun datang menghadap khalifah bersama satu delegasi dari provinsi tersebut. Umar meminta mereka menuliskan daftar fakir miskin dari Himash yang berhak diberi bantuan dari kas negara. Umar heran karena di antara nama yang ditulis terdapat nama Said bin Amir. "Siapa Said bin Amir ini?" tanya Umar. "Gubernur kami," jawab mereka. "Apakah gubernur kalian fakir?" selidik Umar. Mereka membenarkan, "Demi Allah, kami jadi saksi." Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam sebuah kantong dan meminta mereka menyerahkannya kepada sang gubernur.

Menerima sekantong uang berisi seribu dinar, Said langsung membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, seolah satu musibah besar menimpanya. Istri gubernur bertanya: "Apa yang terjadi? Apakah Amirul Mukminin wafat?" "Lebih besar dari itu," jawab Said. "Telah datang dunia kepadaku untuk merusak akhiratku." "Bebaskan dirimu dari malapetaka itu," saran istrinya, tanpa mengetahui bahwa malapetaka itu adalah uang seribu dinar. Said bertanya: "Apakah kamu mau membantuku?" Istrinya mengangguk. Ia meminta istrinya untuk segera membagikan seribu dinar itu untuk fakir miskin, tanpa sisa untuk keluarganya.

Sekian lama berlalu, Umar mengunjungi Said bin Amir. Sudah menjadi kebiasaannya, jika berkunjung ke suatu provinsi, mengadakan dialog terbuka antara masyarakat, gubernur, dan dirinya sendiri. Dialog tersebut bertujuan untuk mengetahui langsung aspirasi masyarakat dan keluhan mereka terhadap pelayanan gubernur. Ada tiga keluhan masyarakat terhadap sang gubernur. Setiap keluhan disampaikan, Umar meminta Said menjawabnya.

Pertama, Said selalu masuk kantor setelah matahari tinggi. Kedua, Said tidak bersedia menerima kedatangan siapa pun menghadapnya pada malam hari. Ketiga, tidak menerima tamu satu hari dalam setiap bulan.

Sebenarnya, Said malu berterus terang, tetapi untuk menghilangkan salah paham, ia pun rela menjelaskannya secara terbuka. Pertama, keluarganya tidak punya pembantu. Setiap pagi, dirinya membuatkan roti untuk keluarganya sehingga setelah matahari tinggi baru bisa bekerja melayani masyarakat. Kedua, siang hari dia menyediakan waktu melayani masyarakat, tetapi malam hari adalah waktu khususnya untuk Allah SWT. Ketiga, satu hari dalam sebulan dia tidak keluar melayani masyarakat karena hari itu dia harus mencuci pakaiannya. Mendengar penjelasan Said, Umar berkata: "Alhamdulillah, penilaianku tidak salah terhadapmu."

Demikianlah sikap hidup zuhud sang gubernur yang sebenarnya juga tidak jauh dari gaya hidup atasannya sendiri, yaitu Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Semoga kisah yang dapat kita baca dalam buku Al-'Arabiyah li an-Nasyi'in ini dapat menjadi renungan bagi kita semua

Kamis, 23 Juli 2009

AKTUALISASI NILAI-NILAI ISRA MI’RAJ DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Mulianya Bulan Rajab

Dalam sejarah peradaban Islam, kita mengenal sebuah peristiwa yang sangat monumental, yaitu peristiwa di-isra-kan (berjalan malam dari Masjidil Haram di Makkah sampai Masjidil Aqsha di Palestina)dan di-mi’raj-kannya Nabi Muhammad SAW (Naik dari Masjidil Aqsha sampai ke sidratul Muntaha). Keotentikan peristiwa tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1 yang artinya berbunyi: ” Maha suci Dzat (Allah SWT) yang menjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) di waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami liputi dengan keberkahan di sekitarnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian keajaiban kekuasaan kami, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat”.

Sebagai umat Islam, tentunya kita wajib mempercayai peristiwa tersebut karena walau bagaimanapun Allah SWT mempunyai kekuasaan penuh untuk menggerakan makhluk-Nya, kapanpun dan dimanapun karena kita tahu Allah SWT mempunyai sifat Kudrat.

Karena peristiwa tersebut terjadi bulan Rajab, maka bulan Rajab ini kemudian menjadi salah satu bulan penting. Nabi pernah bersabda:” Bahwasanya Rajab itu bulan Allah, Sya’ban bagiku dan Ramadhan bagi umatku”.

Dalam kitab Durratun Nasihin diceritakan ada seorang wanita di Baitul Muqaddas yang taat beribadah kepada Allah SWT, setiap bulan Rajab tiba ia selalu menyambutnya dan memulyakannya dengan membaca Al-Qur’an, pakaian kebesarannya ia tanggalkan dan digantinya dengan pakaian khusus walau lebih sederhana dari biasanya. Pada suatu bulan Rajab, ia jatuh sakit dan meninggalkan pesan buat putranya agar jika dirinya meninggal nanti dikafani dengan pakaian khusus tersebut. Namun putranya sedikit gengsi, mayat ibunya tersebut dibungkus dengan kain kafan yang lain dan lebih bagus. Maka di malam harinya ia bermimpi ditemui oleh ibunya dan berkata: “ Hai puteraku, kenapa engkau abaikan pesanku, sungguh aku tidak rela kepadamu”. Maka ia pun bangun dan terkejut bercampur rasa takut, akhirnya ia memutuskan untuk menggali kembali makam ibunya. Namun setelah digali, mayat ibunya ternyata sudah hilang hingga ia bingung, menangis dan menyesalinya, dan ketika itu pula terdengar suara yang berbunyi: “Ketahuilah, bahwa orang yang selalu mengagungkan bulan kami, yaitu bulan Rajab, ia tidak mungkin dibiarkan kesepian, menyendiri di dalam kubur”.

Isra Mi’raj dan Perjuangan Hidup Manusia

Oleh-oleh terbesar yang dibawa Nabi Muhammad SAW dari peristiwa Isra Mi’raj tersebut adalah disyari’atkannya Shalat lima waktu. Sepintas muncul pertanyaan kenapa Allah SWT ‘repot –repot’ menyuruh Nabi berjalan dan naik ke Sidratul Muntaha hanya untuk memerintahkan Shalat, bukankah Allah SWT sangat berkuasa untuk menyampaikannya secara langsung atau lewat malaikat Jibril seperti perintah-perintah yang lain, terlebih kita tahu bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk kesayangan-Nya.

Hal ini menggambarkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini adalah perjuangan, kita diajarkan untuk menyusuri dan menaiki tangga kehidupan layaknya Nabi berjalan dan naik ke Sidratul Muntaha, dan terjadi di malam hari menggambarkan bahwa sebesar apapun rintangan kehidupan yang kita hadapi harus dihadapi dengan penuh semangat dan rasa optimis.

Pada awalnya, shalat lima waktu yang saat ini wajib kita kerjakan adalah lima puluh waktu, tidak ada sedikitpun protes yang disampaikan Nabi kepada Allah SWT, mungkin tidak seperti kebanyakan manusia yang lebih banyak protes atau mengeluh dibanding kataatan dan ibadahnya.
Kita bisa bayangkan kalau dalam sehari kita diwajibkan mengerjakan shalat sebanyak lima puluh waktu, maka dalam satu jam rata-rata kita mengerjakan dua kali shalat wajib, namun sedikitpun Nabi tidak protes terhadap perintah tersebut.

Baru setelah mendapat masukan dari para Nabi yang saat itu sempat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW bahwa umat akhir zaman tidak akan sekuat umat sebelumnya, maka dengan kebijaksanaannya Nabi Muhammad SAW mengajukan pengurangan waktu shalat kepada Allah SWT yang akhirnya menjadi lima waktu. Hal ini pun mengambarkan kepada kita betapa Allah SWT Maha Bijaksana dan Maha Menyayangi hamba-Nya.

Jika setelah dikurangi saja kita masih sering meninggalkan Shalat, maka sebagai seorang hamba sungguhlah keterlaluan bahkan bisa dikatagorikan tidak menghormati perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika meminta pengurangan waktu tersebut, bahkan lebih jauh bisa masuk katagori tidak menghormati peristiwa Isra Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, Naudzubillahi min zalik.

Beberapa Peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW ketika Isra Mi’raj
1. Nabi menghirup udara yang sangat harum, lalu Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril yang menemani perjalannya: “Wahai Jibril, wangi apakah ini?”. Jibril menjawab: “Ini adalah wanginya kuburan Siti Masitoh yang rela mengorbankan nyawanya dan nyawa anaknya yang masih bayi dengan dimasukan kedalam kuali panas oleh Fir’aun hanya karena mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.
2. Nabi melihat sebuah kaum yang memukul-mukul kepalanya sendiri sampai hancur dan setelah hancur kembali lagi kebentuk semula, demikian selanjutnya. Nabi bertanya: Wahai Jibril, siapakah mereka?” Jibril menjawab: “Mereka adalah kaum yang keras kepala, dan tidak pernah mau mengerajakan shalat fardhu”.
3. Nabi melihat ada sebuah kaum yang berjalan digiring seperti digiringnya binatang sambil memakan kotoran ahli neraka. Malaikat jibril menjelaskan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa mereka itu adalah orang kaya yang tidak pernah mau bersedekah.
4. Nabi melihat suatu kaum yang memakan daging mentah dan busuk padahal di sana ada daging yang baik dan sudah masak. Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril : “Siapa mereka wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah umatmu yang suka berzina pada hal mereka mempunyai istri yang halal”.
5. Ketika diperjalanan Nabi menemukan sebuah dahan kayu berduri yang melintang di jalan sehingga orang tidak bisa melalui jalan tersebut. Malaikat Jibril menjelaskan bahwa hal tersebut adalah gambaran manusia yang suka membegal atau menghalangi perjalanan. Dan juga menggambarkan orang yang menjadi penghalang orang lain untuk beribadah.
6. Nabi pernah melihat seorang laki-laki yang berenang di sungai darah sambil mengulum batu di mulutnya, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang suka memakan riba.
7. Nabi Menjumpai kaum yang terus menerus mengumpulkan kayu untuk dipikulnya, namun kayu tersebut tidak terpikul karena terus ditambahkannya. Malaikat Jibril menggambarkan mereka adalah orang yang mempunyai amanah tapi tidak menjalankannya dengan benar.
8. Nabi melihat kaum yang terus menurus memotong lidahnya, karena lidahnya tersebut terus menjulur. Malaikat Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah gambaran orang yang suka memfitnah dan ‘mengadu domba’ orang lain.
9. Nabi melihat ada kaum yang kukunya panjang dari tembaga, lalu mereka menyakar-nyakar muka dan dadanya. Mereka adalah gambaran orang yang suka mengumpat dan suka menceritakan aib orang lain. Orang seperti ini biasa sebagai orang yang memakan daging saudaranya sendiri.

Referensi:
1. Abu H.F. Ramadlan, BA. Tarjamah Durratun Nasihin. PT. Mahkota. Surabaya. 1987
2. H. Abdullah Syafi’i. Hikayat Isra Mi’raj Jakarta.

Jumat, 30 Januari 2009

PAHLAWAN YANG MASUK NERAKA

Suatu hari terjadi pertempuran antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika kedua pihak pulang ke markas masing-masing.
Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah terjadi. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka yaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar menerkam mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."
Para sahabat menjadi heran mendengar jawaban Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.
Rasulullah sadar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."

"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."
Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman berkatanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."

Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.



Minggu, 07 Desember 2008

PANGLIMA PERANG YANG ARIF


Umar bin Khattab ra. adalah seorang sahabat yang terkenal keberaniannya dan disegani oleh kaum kafir Qurays. Dalam suatu perang tanding, setelah melewati perhelatan yang hebat Umar bin Khattab ra. dapat menjatuhkan lawannya, dan tanpa diduga lawannya yang sudah tidak berdaya tersebut sempat meludahi Umar. Ujung pedang Umar ra. sudah tepat dileher lawan, dan hanya dengan satu gerakan saja leher lawan tersebut bisa putus. Namun apa yang terjadi, Umar ra. malah tidak jadi membunuhnya dan kembali memasukan pedangnya tersebut pada sarangnya. Sahabat yang lain bertanya: “Wahai airul mukminin, kenapa anda tidak jadi membunuhnya padahal anda sudah susah payah menjatuhkannya?”, Umar menjawab:” Aku takut kalau ternyata aku membunuhnya disebabkan kebencian dan dendam karena ia meludahiku, bukan karena kepentingan membela agama Allah SWT”.

Selasa, 11 November 2008

DUKA CITA SEORANG ULAMA

Suatu saat di zaman Bani Israil ada seorang ulama faqih dan ahli ibadah bahkan termasuk mujtahid mempunyai seorang istri yang sangat dicintainya. Pada suatu hari, istri yang sangat dicintainya tersebut meninggal dunia. Ulama tersebut sangat berduka bahkan duka cita yang sedalam-dalamnya sehingga ia memutuskan untuk menyendiri di rumahnya bahkan mengunci pintu rumahnya tersebut hingga ia tidak bisa ditemui oleh siapapun.
Pada suatu hari ada seorang perempuan yang datang ke rumahnya, ia bermaksud untuk meminta fatwa kepada ulama tersebut tentang sebuah persoalan, dan perempuan tersebut ingin menanyakannya secara langsung pada ulama tersebut. Berhari-hari dia menunggu di depan pintu rumah ulama tersebut, sampai pada akhirnya ia diizinkan masuk ke rumah ulama tersebut.
Perempuan itu berkata: “Aku datang untuk meminta fatwa tentang sebuah persoalan”. Ulama tersebut kemudian bertanya: “Apa itu?”, perempuan itu berkata: “ Aku meminjam perhiasan dari seorang tetangga dan aku sudah memakainya lama sekali, lalu tetanggaku tersebut meminta aku untuk mengembalikannya, apakah aku harus mengembalikannya?”. Ulama itu berkata: “ Ya (kamu harus mengembalikannya) demi Allah”. Perempuan tersebut kemudian berkata kembali: “ Tapi aku sudah lama memakainya”, Ulama itu berkata: “ tetanggamu itu lebih berhak walaupun kamu sudah lama memakainya”. Perempuan tersebut kemudian berkata: ”semoga Allah SWT merahmatimu, lalu kenapa engkau berduka atas apa yang telah Allah SWT titipkan kepadamu dan mengambilnya darimu, bukankah Dia lebih berhak atas istrimu daripada dirimu?”. Maka terbukalah pikiran ulama tersebut setelah itu.
Sumber: Al-Muwatha, hadits ke- 559.

Sabtu, 11 Oktober 2008

NEWTON DAN BUKTI ADANYA TUHAN

Setelah Newton menemukan teori gravitasi bumi, dia membuat sebuah maket sistem tata surya dengan menggunakan bola logam. Setelah menekan sebuah tombol power, maka semua bola logam ini bergerak menurut gaya rotasi dan revolusi layaknya pergerakan tata surya yang sesungguhnya. Newton mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Halley, yaitu orang yang pertama kali menemukan Komet Halley. Dia adalah seorang atheis (orang yang tidak percaya adanya Tuhan).

Pada suatu ketika, Halley bertamu ke rumah Newton dan melihat maket sistem tata surya tersebut, dia merasa maket sistem tata surya itu sangat lucu, lalu bertanya pada Newton, siapa yang membuat maket ini?, kemudian Newton menjawab, tidak ada orang yang mendesain dan membuatnya, itu hanyalah bermacam-macam material yang secara kebetulan terbentur menjadi satu lalu terbentuk.

Halley tentu saja tidak percaya, dia bilang, walau bagaimanapun pasti ada seseorang yang membuatnya. Lalu Newton menepuk-nepuk bahu Halley sambil berkata: “ Maket ini meskipun sangat indah, namun jika dibandingkan dengan sistem tata surya yang sebenarnya, maka tidak ada apa-apanya. Sekalipun kau percaya bahwa pasti ada orang yang membuatnya, lalu sistem tata surya yang lebih indah selaksa lipat dari maket ini, bukankah seharusnya ada Tuhan yang dengan segenap kemampuan telah menciptakannya? (Sumber: Dajiyuan.net)

Sabtu, 13 September 2008

MENEBUS KEKHUSYUAN SHALAT

Abdullah bin Abu Bakar pernah bercerita bahwa Abu Talhah Al-Anshari pernah melakukan shalat di kebun kurmanya, akan tetapi kekhusuan shalatnya terganggu karena ada burung yang terbang bolak-balik mencari jalan untuk mengambil kurmanya tersebut, sampai-sampai dia lupa bilangan rakaat shalatnya.
Lalu dia shadaqahkan kebun kurmanya tersebut karena ia takut kebunnya tersebut hanya menjadi fitnah baginya, dan dia berharap dengan menshadaqahkan kebun kurmanya tersebut bisa menebus kekhusyuan shalatnya.Sumber: Al-Muwatha, Hadits ke-222.

Rabu, 10 September 2008

UMAR BIN KHATTAB; PEMIMPIN YANG SEDERHANA

Umar bin Khattab r.a. adalah seorang khalifah yang terkenal dengan kegagahannya dan keberaniannya, di samping itu ia pun terkenal dengan kesederhanaannya. Suatu hari anaknya menangis ketika pulang bermain bersama teman-temannya.
Anaknya tersebut kemudian menceritakan bahwa teman-temannya mengejeknya karena baju yang dikenakannya sangat jelek bahkan sudah dipenuhi dengan jahitan karena bolong-bolong, oleh sebab itu ia menangis dan meminta ayahnya (Umar bin Khattab) membelikan baju untuknya.
Karena tidak ada uang, lalu Umar r.a. yang pada saat itu sebagai pemimpin pemerintahan menulis surat untuk bendaharanya dengan maksud meminjam uang dengan jaminan gajinya pada bulan yang akan datang. Bendaharanya tersebut ternyata tidak serta merta meminjamkan uang kas negara kepadanya, namun dia membalasnya dengan surat lagi dengan sebuah pertanyaan: “ Apakah tuan punya jaminan bahwa bulan yang akan datang tuan masih punya umur?”.
Membaca jawaban tersebut Umar r.a. yang gagah berani dan mempunyai kekuasaan tersebut tidak marah bahkan dia menyadari bahwa kekuasaannya tersebut bukan untuk dimanfaatkan diri dan keluarganya, tapi untuk kepentingan rakyatnya. Diapun menyuruh anaknya untuk terus memakai bajunya yang sudah penuh dengan jahitan tersebut.

Minggu, 07 September 2008

TAK PERNAH BERBUAT BAIK TAPI MASUK SURGA
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada seorang laki-laki yang tidak pernah berbuat baik sedikitpun. Suatu saat dia berwasiat kepada keluarganya agar jika nanti ia meninggal, jasadnya langsung dibakar dan abunya ditaburkan di dua tempat, setengahnya di daratan dan setengahnya di lautan. Wasiat tersebut ia lakukan dengan harapan agar ia tidak merasakan pedihnya siksaan Allah SWT, karena ia sadar bahwa dirinya tidak pernah melakukan kebaikan, dan dia tahu bahwa orang yang tidak melakukan kebaikan akan mendapat siksa-Nya. Ketika dia meninggal maka keluarganya melakukan wasiatnya tersebut.
Setelah itu, Allah SWT menyuruh daratan dan lautan mengumpulkan kembali abu-abu tersebut. Allah SWT bertanya: “Kenapa kau lakukan hal ini?”, dia berkata: “ Aku takut kepada-Mu, dan Kamu tahu tentang diriku (yang penuh dengan dosa)”. Lalu Allah SWT mengampuninya karena rasa takut kepada-Nya tersebut, dan diceritakan bahwa orang ini adalah yang terakhir masuk surga.
Sumber: Al-Muwatha, Hadits ke-568.