Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2020

Lelaki Misik

Oleh: Ade Zaenudin

Dikisahkan ada seorang pemuda tampan berprofesi sebagai pedagang keliling.Ketampanannya begitu menarik perhatian para wanita, sampai satu saat ada seorang wanita menjebaknya.

Wahai pemuda, datanglah kemari, masuklah ke rumahku, aku ingin membeli barang daganganmu. Kata sang wanita.

Ketika pemuda tersebut masuk rumah, seketika itu pula pintunya dikunci.

Wanita itu kemudian mengerahkan rayuan mautnya, dengan harapan sang pemuda jatuh dipelukannya.

Pemuda itu bingung, bagaimana agar terhindar dari jebakan tersebut?

Sang Pemuda berkata, baiklah kalau memang itu keinginanmu, berikan kesempatan aku untuk mandi terlebih dahulu biar wangi.

Ketika di kamar mandi, dia melumuri badannya dengan kotorannya sendiri. Keluarlah pemuda tersebut dari kamar mandi, dan berkata, wahai wanita, ayo saya sudah siap. Melihat badan berlumur kotoran, wanita tersebut merasa jijik, muntah lalu kemudian mengusirnya.

Singkat cerita pemuda tersebut membersihkan badannya kembali, dan ajaibnya setelah itu badannya malah wangi sewangi minyak misik. Subhanalloh.

Kamis, 08 Oktober 2020

Manisnya Jebakan Manis


Oleh: Ade Zaenudin

 

Segelas susu habis beberapa menit saja pagi ini, menyertai belajar secara virtual bersama sahabat seperjuangan.

Astagfirullah…

Ternyata dalam waktu sekejap, tetesan susu sisa di gelas sudah berubah menjadi bencana, merenggut nyawa.

Manis yang tersisa di lidah, lenyap seketika. Keringat dingin tersisa merubah rasa.

Sekelompok kawanan semut terjebak di dalam gelas.

Saya membayangkan maksud mereka, saya yakin niatnya adalah untuk memperpanjang nyawa, mencari makan, namun justru malah sebaliknya, hilang nyawa.

Sejenak saya berfikir, siapapun akan berjuang demi memenuhi kebutuhan. Segenap pengetahuan dan pengalaman sejatinya menjadi modal untuk melangkah, sebelum terjebak dalam ganasnya kehidupan.

Bayangan saya tertuju mencari semut mana yang pertama kali terjebak, entahlah? Lalu saya bertanya kenapa yang belakangan terjebak juga padahal kawannya sudah duluan terjebak. Inilah pentingnya berliterasi, belajar pada keadaan dan peka terhadap situasi, walau itu bukan jaminan keselamatan.

Saya mencoba berhusnudzan, yang terjebak pertama kali memang karena ketidaktahuan, dan yang selanjutnya mau mencoba menyelamatkan, saya tahu bagaimana karakter semut, gotong royongnya patut jadi teladan. Namun demikian, niat baik tidak selamanya berakibat baik. Kalau sudah demikian, maka mari kita bertawakkal, takdir Allah tak akan bisa dilawan.

 Jika hidup ini dihadapkan pada pilihan manis dan pahit, maka saya semakin yakin bahwa tidak selamanya yang manis itu mendatangkan kenikmatan.

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini semua, apakah rasa manis yang mengundang bencana, menipu kawanan semut? Belum tentu. Andai rasa manis itu tidak bercampur air, semut itu bisa saja selamat, sayang gula yang menjad incaran semut sudah larut dalam air.

Kalau begitu airlah yang bertanggung jawab! Rasanya bukan juga, air pasti membela diri, siapa suruh saya dilarutkan dengan gula dan disimpan dalam gelas. Gelaspun dengan “mata tajam” seolah membentak saya, kenapa kau sisakan tetesan air padaku, andai saja kau jilat tetesan susu tak tersisa, atau segera kau cuci aku, pasti tidak aka nada korban nyawa.

Ya Allah…

Anda ini semua dosaku, aku hanya bisa meminta maaf lewat tulisan ini.

Astagfirullohaladhim wa atubu ilaih.

Bimtek Kurikulum secara Virtual pun akhirnya tuntas, tersisa memori kelam, gugurnya kawanan semut yang tak berdosa. Astagfirullohaladhim.

Ruang guru, 8 Oktober 2020

Kamis, 30 April 2020

Muhammad Ali dan Sang Bodyguard

Oleh: Ade Zaenudin 

Siapa yang tidak kenal Muhammad Ali, petinju legendaris kelas dunia asal Amerika Serikat.

Dalam sebuah wawancara, Muhammad Ali mendapatkan pertanyaan, Apakah Anda punya bodyguard? Dengan ekspresi serius (agak gimanaa gituh) dan seolah jarinya menghitung satu… dua… tiga… (pura-pura menghitung), lalu tersenyum dan membuka matanya.

Muhammad Ali menjawab.

Saya punya satu bodyguard.
DIA tidak  punya mata, tapi DIA melihat.
DIA tidak punya telinga, tapi DIA mendengar.
DIA ingat semua hal dengan ingatan yang kuat.
Kalau DIA ingin sesuatu, DIA tinggal menciptakannya dan langsung jadi.
Pengikutnya patuh dan DIA tahu apa yang orang bicarakan.
DIA tahu semua rahasia bahkan yang ada di dalam benak.
Siapa DIA?
DIA adalah ALLAH.
DIA adalah bodyguard saya
DIA adalah bodyguard Anda

Jawaban yang luar biasa cerdas dan “bergizi tinggi”.

Seperti kita ketahui, salah satu asma’ul husna adalah Al-Mu'min, Allah Maha Memberi Rasa Aman. Allah adalah bodyguard kita semua.

Kalau presiden, artis, pejabat, atau orang kaya punya bodyguard, maka bodyguard mereka adalah bodyguard biasa saja. Mereka masih sebatas manusia, bekerja atas dasar pamrih, atas dasar gaji dan bekerja sesuai perintah sang majikan.

Allah bukan bodyguard biasa, tidak bekerja atas dasar perintah, bukan pula karena pamrih ataupun gaji.

Persoalannya adalah berapa banyak manusia yang memiliki keyakinan (keimanan) yang tinggi bahwa Allah benar-benar melindungi kita, seperti keyakinan Muhammad Ali yang begitu mantap. Tidak sedikit manusia yang lebih percaya pada manusia lagi, bukan pada Sang Pembuat manusia. Keyakian yang semu.

Manusia sering kali lebih mengedepankan logika dan apa yang terlihat mata, dibanding keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Pernahkah terpikir oleh kita?

Betapa Allah melindungi sel-sel otak kita yang sangat rentan dengan batok tengkorak yang begitu keras.

Allah lindungi jantung kita dengan deretan tulang rusuk yang begitu sempurna.

Allah tumbuhkan bulu mata untuk menjaga dari debu yang beterbangan.

Allah tumbuhkan bulu hidung untuk menjaga sirkulasi udara yang masuk ke hidung dan paru-paru.

Siapa yang menjaga agar darah tidak keluar dari berbagai lubang, padahal ada banyak lubang dalam diri manusia, berapa juta lubang pori-pori yang biasa mengeluarkan keringat.

Siapa yang menjaga agar kotoran atau air kencing tidak keluar mengucur begitu saja dari tempat pembuangan padahal tak berpintu dan tak dikunci.

Subhanalloh, itu baru yang nampak dan sangat dekat dari diri kita, belum sampai kondisi peredaran alam semesta yang begitu teratur dan tertata.

Ya Allah… Ya Mu’miin…

Wallohu a’lam

Kalideres, 7 Ramadhan 1441 H.

Senin, 23 Maret 2020

BERTAHIYAT SAAT ISRA MIRAJ


Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril AS terbius mega cahaya yang terdiri dari berbagai warna saat melewati sidratul muntaha di malam Isra Mi’raj.

Jibril pun terdiam menghentikan langkahnya.

Wahai Jibril, jangan kau biarkan aku berjalan sendirian. Pinta Nabi.

Melangkahlah Jibril mendekati Nabi. Allohu akbar, selangkah saja hampir menyebabkan Jibril terbakar cahaya. Badan Jibril tiba-tiba mengecil. Subhanalloh hal itu tidak terjadi pada Nabi.

Jibril berpesan agar Nabi memberi salam kepada Allah SWT jika sudah sampai di Khithob (tempat komunikasi).

Nabi SAW: Attahiyyatul mubarokaatush Sholawatuth thoyyibaatu lillah. Kesejahteraan, keberkahan, dan sholawat yang baik adalah milik Allah SWT

Allah SWT: Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warohmatullohi wabarokaatuh. Keselamatan, Rahmat Allah dan berkah-Nya atasmu wahai Nabi.

Merasa mendapat penghormatan luar biasa dari Allah, Nabi tidak mau penghormatan ini hanya untuk dirinya sendiri, Nabi ingin hamba-hamba  Allah yang saleh juga mendapatkan penghormatan ini.

Nabi pun menjawab: Assalamu ‘alaina wa alaa ibadillahish sholihin. Keselamatan semoga untuk kami dan juga untuk hamba-hamba-Mu yang saleh.

Mendengar percakapan itu penduduk langit dan bumi pun bersyahadat: Asyhadu anla ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadar-rosuululloh. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Subhanalloh, walhamdulillah, walaailaha illaloh, wallohu akbar.

Ade Zen. 27 Rajab 1441 H.
Lihat kitab Kasyifatus Saja Syekh Imam Nawawi pasal Tasydid Tasyahud

Kamis, 08 Februari 2018

MENTALITAS INJURY TIME


Ade Zaenudin

Rutinitas kerja harian dengan pola dan sistem yang sama setiap hari ternyata tidak serta merta diawali dengan rasa yang sama, terkadang diawali dengan perasaan lega, boleh jadi sebaliknya, diliputi dengan ketidakpuasan terhadap diri sendiri, faktornya tentu beragam. Ambil contoh, di sekolah yang memberlakukan sistem presensi (kehadiran) finger print pukul 07.00 dengan batas toleransi 07.30 untuk keadaan darurat, atau bahasa saya Injury Time. 

Bagi mereka yang membiasakan diri datang sebelum masa Injury Time, akan merasakan ketidakpuasan diri ketika finger print pukul 07.01, “perasaan indah” ini tentu tidak akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa datang di masa Injury Time. Dari sini kita bisa menilai diri, sikap mental apa yang dimiliki. 

Hal inipun bisa kita lihat pada siswa, ada yang terbiasa datang di masa Injury Time, senang mengerjakan tugas di masa Injury Time, dan lain sebagainya. Inilah yang saya maksud dengan mentalitas Injury Time. Mentalitas ini akan menjadi masalah besar jika nanti menjadi sebuah karakter. 
Semoga saja kita terhindar dari mentalitas Injury Time. Amin
Catatan Rabu Pagi. (7/2/2018) (06.50)

Kamis, 06 Desember 2012

Kejujuran Khatib Mukhtar

Oleh: Prof Yunahar Ilyas
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/04/meifuf-kejujuran-khatib-mukhtar
Namanya Mukhtar. Anak-anak tiap sore mengaji di taman pendidikan Alquran (TPQ) di samping masjid yang diasuh Mak Tan—panggilan akrabnya. Orang dewasa memanggilnya Angku Khatib, karena jabatan resminya di masjid sebagai khatib. Sekalipun khatib, tetapi Mukhtar jarang memberikan khutbah Jumat. Dia baru akan berkhutbah kalau khatib yang telah dijadwalkan berhalangan hadir. Jika berkhutbah, hampir bisa dipastikan, dia hanya membaca salah satu khutbah yang ada dalam buku kumpulan khutbah Jumat yang tersedia di masjid. Sehari-hari Mukhtar membuka warung di samping masjid. Macam-macam kebutuhan harian masyarakat dijual di warung itu. Sembako, alat tulis, dan macam-macam kue yang dititipkan kepadanya. Dari hasil warung itulah, Mukhtar menghidupi keluarganya, walau seadanya.  
Dua kali sepekan, Mukhtar mengayuh sepedanya sejauh enam kilometer pulang-pergi belanja keperluan warungnya ke kota. Sebelum waktu Zhuhur, dia sudah kembali untuk mempersiapkan diri mengumandangkan azan shalat lima waktu tepat waktu. Kalau imam yang bertugas berhalangan, ia yang memimpin shalat berjamaah. Selain itu, tugas lainnya yang dipercayakan kepadanya adalah menjadi kasir masjid. Setiap Jumat, sebelum khutbah dimulai akan diedarkan beberapa kotak (wakaf, yatim, dan infak), sesuai keinginan jamaah. Hasil infak lebih luwes penggunaannya untuk berbagai kebutuhan masjid. Sedangkan kotak wakaf dan yatim, digunakan sesuai peruntukannya. Bahkan, setiap ada pengajian (ceramah agama), tiga kotak infak itu juga akan beredar, lebih-lebih lagi selama Ramadhan. Kotak-kotak itu akan dibuka di depan jamaah, kemudian dihitung lalu diumumkan. Setelah diketahui jumlahnya oleh jamaah, barulah uang itu disimpannya. 
Dalam memegang amanah keuangan tersebut, ia dikenal sangat jujur. Uang kertas akan disusun dan diikat, sedangkan uang koin dimasukkan kantong plastik lalu disimpan dalam almari sendiri untuk kemudian digunakan sesuai keperluannya. Bila ada orang yang ingin menukar uang recehan, ia tak mau mengabulkannya. Menurutnya, uang itu adalah amanah yang harus dijaga apa adanya. Walaupun dijelaskan bahwa menukar uang recehan dengan uang besar tidak menyalahi aturan, bahkan lebih memudahkannya dalam menyimpan, tetap saja dia tidak peduli. Terkadang, banyak orang geleng-geleng kepala menyaksikan kepolosan dan kejujuran sang khatib ini. Tak jarang pula ada yang menertawakannya. Namun, ia tetap keukeuh memegang amanah itu. Begitulah tugas-tugas di masjid itu. 
Secara sukarela, Khatib Mukhtar menjalani dan mengemban tugasnya dengan tekun, disiplin, dan jujur. Anak-anak kecil yang biasa memanggilnya Mak Tan, kini sudah beranjak dewasa. Mereka telah menyelesaikan pendidikan. Ada yang merantau ke kota, bekerja di desa, dan di tempat lain. Tapi, Mak Tan tetap saja setia dengan warung kecilnya di samping masjid itu. Lima puluh tahun lebih, Khatib Mukhtar mendarmabaktikan hidupnya untuk tugas mulia itu. Sampai akhir hayat tahun lalu, Khatib Mukhtar tidak punya cacat sedikit pun dalam menjalankan amanah yang dibebankan di pundaknya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya. Amien.

Sabtu, 19 Mei 2012

Tujuh Indikator Kebahagiaan

Oleh: Ustaz Erick Yusuf
Sumber: Kolom Hikmah Republika Kamis, 17 Mei 2012

Ibnu Abbas RA adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijuluki Turjumaanul Qur’an (ahli menerjemahkan Alquran). Dia sangat telaten menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Dia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW. Pada usia sembilan tahun Ibnu Abbas telah hafal Alquran dan telah menjadi imam di masjid.

Sejak kecil Ibnu Abbas sudah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya menuntut ilmu. Beragam gelar diperolehnya. Seperti faqih al-ashr (ahli fikih di masanya), imam al-mufassirin (penghulu ahli tafsir), dan al-bahr (lautan ilmu).

Suatu hari, ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab ada tujuh indikator kebahagiaan dunia. Pertama, hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS al-Mu’minun [23]: 1).

Kedua, pasangan hidup yang saleh. Pasangan saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalehan. Sebaliknya, istri yang shalehah akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya.

Ketiga, anak yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Muslim).

Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu menggendong ibunya yang uzur. “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk berbakti pada orang tua?” Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak shaleh, berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”

Keempat, lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at-Taubah [9]: 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita. Pentingnya bergaul dengan orang shaleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan.

Kelima, harta yang halal. Dalam Islam kualitas harta adalah yang terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus, namun sayang makanan, minuman, dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan.”

Keenam, semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya.

Ketujuh, umur yang berkah. Semakin tua semakin shaleh, yang setiap detiknya diisi amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, hari tuanya akan sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati yang diangankannya. Orang yang mengisi umurnya dengan amal ibadah, semakin tua semakin rindu bertemu Allah SWT.

Jumat, 16 Desember 2011

Menemui Allah

Oleh Ustaz Hasan Basri Tanjung
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Jumat, 16 Desember 2011

Bahasan ini sebenarnya telah masuk ranah tasawuf dan hanya bisa dijelaskan dengan baik oleh ahli tasawuf (sufi) yang mencapai maqam (tingkatan spiritual) mahabbah (cinta Allah) dan makrifah (mengenal Allah). Salah satu jalan untuk menemui Allah SWT adalah mengunjungi Rumah-Nya, Baitullah.

Dalam sebuah hadis Qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu (ra) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung akan berfirman pada Hari Kiamat, 'Wahai putra-putri Adam (Ibnu Adam), Aku sakit, tetapi mengapa engkau tak mengunjungi-Ku? Ibnu Adam bertanya, 'Yaa Rabb, bagaimana aku mengunjungi-Mu sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?' Allah berfirman, 'Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sekiranya engkau menjenguknya, niscaya engkau akan menemukan Aku di sana'."

"Wahai putra-putri Adam, Aku minta makanan kepadamu, tapi mengapa engkau tidak memberi-Ku makan?" Ibnu Adam pun bertanya, "Ya Rabb, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?" Allah berfirman, "Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan telah meminta makanan kepadamu, mengapa engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makan, niscaya engkau akan mendapatkan itu (ganjarannya) di sisiku?"

Jika kita simak hadis di atas, pesan pertama sebagai jalan menemui Allah adalah membesuk orang sakit. Boleh jadi, karena orang sakit sedang berada di persimpangan jalan, yakni antara hidup dan mati. Seorang yang sakit keras atau kritis, sedemikian dekat kepada Allah. Sejatinya, ia berhak atas Muslim yang lain untuk dijenguk dan wajib bagi seorang Muslim untuk menjeguknya (HR Muslim).

Mengunjungi orang sakit tidak sekadar lepasnya kewajiban, tapi justru dapat mengeratkan persaudaraan dan keharmonisan sosial. Doa yang dipanjatkan dan kegembiraan hatinya bisa mempercepat kesembuhan. Jika kita ingin menemui Allah, maka kunjungilah orang-orang sakit yang bersandar dan bergantung penuh hanya kepada Allah SWT.

Pesan kedua dari hadis di atas adalah memberi makan dan minum untuk kaum dhuafa. Mereka adalah orang yang dikasih dan sengaja dihadirkan Allah untuk menguji keimanan dan komitmen sosial kita dalam upaya berjumpa dengan Allah SWT.

Konon, Nabi Musa AS pernah bertanya kepada Allah, di mana ia bisa menemui-Nya. Allah menjawab, "Temuilah Aku di tengah orang yang hancur hatinya." Karena itulah, Allah SWT menyuruh kita untuk memberi makan orang yatim, miskin, dan yang tertawan hidupnya, bahkan dinilai sebagai pendusta agama jika tidak menyantuni mereka. (QS 2:177,90:14-16,93:9-10,107:3).

Demikianlah Islam mengajarkan ibadah yang sebenarnya, yakni ibadah yang berdimensi individual dan sosial sekaligus. "Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah agar menjadi kaya. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah agar bertambah sukses." Wallahu a'lam bish-shawab.

Selasa, 18 Oktober 2011

Iblis dan Ibnu Ummi Maktum

Oleh: Oleh Syahruddin El-Fikri
Sumber: Kolom Hikmah Republika.
Selasa, 18 Oktober 2011

Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah seorang sahabat yang mulia. Dia menjadi salah satu sebab turunnya surah 'Abasa. Suatu hari, Abdullah bin Ummi Maktum mengikuti pengajian Rasulullah SAW. Dalam kesempatan itu, Rasul menyampaikan akan kewajiban setiap Muslim yang mendengar azan untuk segera menunaikan shalat. Karena kondisi fisiknya, yakni matanya yang buta, ia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW.

"Wahai Rasulullah SAW, apakah saya juga diwajibkan kendati saya tidak bisa melihat?" tanya Ibnu Ummi Maktum. Rasul menjawab, "Apakah kamu mendengar seruan azan?" Ibnu Ummi Maktum menjawab, "Ya, saya mendengarnya." Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak.

Maka, dengan penuh keimanan, setiap azan berkumandang dan waktu shalat tiba, ia pun segera pergi ke masjid dan berjamaah dengan Rasulullah SAW. Suatu ketika di waktu Subuh, saat azan dikumandangkan, Ibnu Ummi Maktum pun bergegas ke masjid. Di tengah jalan, kakinya tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah. Namun, tekadnya sudah bulat untuk tetap berjamaah ke masjid.

Waktu Subuh berikutnya, ia bertemu dengan seorang pemuda. Pemuda tersebut bermaksud menolongnya dan menuntunnya ke masjid. Selama berhari-hari, sang pemuda ini selalu mengantarnya ke masjid. Ibnu Ummi Maktum pun kemudian ingin membalas kebaikannya. "Wahai saudaraku, siapakah gerangan namamu. Izinkan aku mengetahuimu agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah," ujarnya.

"Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan," jawab sang pemuda. "Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan," tutur Ibnu Ummi Maktum kepada pemuda itu.

Maka, sang pemuda ini pun akhirnya mengenalkan diri. "Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis," ujarnya. "Lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid. Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?" tanya Ibnu Ummi Maktum lagi.

Sang pemuda yang bernama iblis itu kemudian membuka rahasia atas pertolongannya selama ini. "Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini," jawab iblis tersebut.

Kisah di atas menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya iblis tak akan pernah berhenti untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Dalam hal yang baik pun, iblis selalu berusaha untuk membelokkan orang yang beriman ke arah yang dimurkai Allah. Ketahuilah, sesungguhnya iblis itu adalah musuh yang nyata bagi kita. (QS Fatir [35]: 6). Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridai setiap ibadah kita. Amin. Wallahu a'lam.

Kamis, 29 September 2011

Kemuliaan Mengalahkan Kebencian

Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Kamis, 29 September 2011

Adi bin Hatim adalah kepala suku Thai yang disegani. Dia mewarisi kepemimpinan bapaknya. Sebagaimana kepala suku, Adi menerima seperempat penghasilan kaumnya sebagai pajak. Hidupnya tenang dengan kekayaan yang melimpah.

Dia sangat membenci Rasulullah SAW, kendati dia belum pernah bertemu. Adi semakin gelisah setelah mendengar kabar pengaruh Rasulullah semakin kuat di jazirah Arabia. Beberapa kepala suku sudah memeluk Islam dan bergabung dengan Madinah. Adi khawatir kedatangan Rasulullah SAW akan mengancam kepemimpinannya.

Satu hari, hamba sahayanya melaporkan bahwa dia melihat bendera tentara Muhammad di sekeliling perkampungan mereka. Dengan tergesa-gesa, Adi mengumpulkan keluarganya dan segera lari meninggalkan Thai menuju utara, Syam. Tetapi, saudara perempuannya tertinggal. Dia tidak berani kembali. Dia hanya bisa berharap saudara perempuannya dapat menyusul.

Harapannya terpenuhi. Saudara perempuannya muncul bersama rombongan yang baru datang dari Madinah, sambil marah. "Engkau tinggalkan kami. Engkau zalim. Istri dan anak-anakmu engkau bawa, tetapi saudara perempuanmu dan yang lainnya engkau tinggalkan." Adi berusaha menenangkan kemarahan saudara perempuannya. Setelah tenang, dia bercerita akan kemuliaan Nabi Muhammad.

"Setelah negeri kita diserang, aku dan berapa penduduk lain dibawa ke Madinah," kata saudara perempuannya itu. "Di sana kami ditawan di dekat masjid. Ketika Rasulullah lewat aku menyapanya. Wahai Rasulullah. Bapakku telah tiada, yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda." Rasulullah bertanya, "Siapa yang menjamin engkau?" Aku menjawab, "Adi bin Hatim." Kata Rasulullah, "Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya."

Kemudian, Rasul SAW berlalu. Besoknya, terjadi lagi dialog yang sama. "Pada hari ketiga, Rasulullah lewat tetapi aku tidak menyapa beliau lagi sampai seorang laki-laki -yang kemudian kuketahui adalah Ali bin Abi Thalib- memberi isyarat kepadaku untuk menyapa beliau. Kali ketiga itulah permintaanku dipenuhi. Rasulullah berkata, "Engkau jangan terburu-buru pergi sebelum engkau dapatkan orang yang dapat dipercaya untuk mengantarkanmu." Setelah mendapatkan orang yang dipercaya, Rasulullah memberiku pakaian, unta untuk kendaraan, dan belanja secukupnya. Akhirnya dengan rombongan yang dipercaya, aku sampai di sini," tuturnya.

Adi disarankan untuk menemui Rasulullah. "Datangilah segera. Jika dia seorang Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya akan beruntung. Dan jika dia seorang raja, tidak ada hinanya engkau berada di sampingnya. Engkau juga seorang raja."

Akhirnya Adi pergi ke Madinah. Dia masuk ke majelis Nabi SAW ketika beliau berada di masjid. Mengetahui yang datang adalah Adi bin Hatim, Rasulullah berdiri menyongsongnya. Menggandeng tangan Adi, membawanya ke rumah beliau, dipersilakan duduk di atas bantal kulit. Sedangkan Rasulullah sendiri duduk di tikar biasa. Adi berguman, "Ini bukan kebiasaan raja-raja."

Setelah berdialog beberapa saat akhirnya Adi mengucapkan dua kalimah syahadat. Kebenciannya luluh oleh kemuliaan hati Rasulullah SAW.

Minggu, 25 September 2011

Tadabur Ayat dan Alam

Oleh Muhbib Abdul Wahab
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Sabtu, 24 September 2011

Diriwayatkan Ibn Hibban bahwa suatu hari Ubaid bin Umar dan Atha' menemui Aisyah ra, dengan maksud belajar tentang Islam. Ubaid berkata, "Wahai Aisyah sampaikanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan dari kehidupan Rasulullah SAW." Mendengar permintaan itu, Aisyah menangis. Setelah itu, ia menceritakan bagaimana Rasul beribadah dan bertadabur di malam hari.

Kata Aisyah, Rasulullah pernah shalat tahajud sangat lama. Beliau meminta Aisyah membiarkannya berlama-lama dalam beribadah kepada Tuhan-Nya. Aisyah berkata, "Demi Allah, aku ingin selalu dekat denganmu dan melakukan sesuatu yang membahagiakanmu." Rasul hanya tersenyum, kemudian melanjutkan shalat tahajud.

Aisyah mengisahkan, saat shalat, Rasul menitikkan air mata. Air mata itu mula-mula hanya membasahi pipi, lalu jenggot beliau, sampai akhirnya membasahi tanah tempat beliau shalat. Rasul tak henti-hentinya menangis dalam shalat itu, hingga Bilal mengumandangkan azan Subuh. Aisyah bertanya, "Mengapa engkau menangis seperti itu? Tidakkah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang?" Rasul menjawab, "Sungguh aku ingin menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur!"

Rasul melanjutkan, "Wahai Aisyah, aku menangis seperti itu karena Allah baru saja menurunkan ayat kepadaku. Orang yang membaca ayat (QS Ali Imran [3]:190-191) ini, akan celaka jika tidak menadaburinya.

Tadabur artinya memahami dan merenungkan makna untuk kemudian menjadikannya sebagai pelajaran. Salah satu cara tadabur ayat yang diteladankan Rasul adalah membaca ayat dalam shalat tahajud secara tartil, penuh penghayatan, dan keterlibatan hati dan pikiran kemudian mengamalkannya dalam kehidupan.

Ayat yang dibaca Rasul dalam shalat tahajud tersebut tidak hanya mengharuskan kita tadabur ayat Alquran, tapi juga tadabur alam (ayat-ayat kauniyyah). Alam sangat sarat dengan tanda-tanda kekuasaan, kebesaran, dan keagungan Allah. Tadabur ayat menjadi lengkap dan seimbang jika disertai dengan tadabur alam.

Tadabur ayat dan tadabur alam sama-sama bernilai ibadah. Tadabur ayat mengantarkan kita pada pemahaman dan pemaknaan teks kitab suci, sedangkan tadabur alam membimbing kita untuk mengerti konteks, hukum-hukum kausalitas, dan hidup harmoni kepada alam raya. Tadabur ayat dan alam mengharuskan kita bersikap rendah hati terhadap keagungan Ilahi. Keduanya memotivasi kita untuk selalu membaca, meneliti, memahami, dan mengaktualisasikan diri kita menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Dengan demikian, kita baru layak disebut hamba yang pandai bersyukur, jika selalu melakukan tadabur ayat-ayat Quraniah sekaligus ayat-ayat kauniyyah secara terpadu dan seimbang. Merasakan dan memahami kebesaran Allah tidak cukup melalui ibadah ritual seperti shalat, tapi harus pula melalui penelitian dan permenungan terhadap aneka ciptaan Allah di alam raya ini.

Integrasi pemahaman ayat-ayat Quraniah dan ayat-ayat kauniyyah idealnya merupakan basis pengembangan imtak dan ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni). Karena itu, setiap Muslim harus meyakini bahwa semua ciptaan Allah di alam raya ini dapat menjadi "laboratorium hidup" bagi kita semua.

Kamis, 22 September 2011

Kiat Memelihara Ilmu

Oleh Muhammad Kosim MA
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Kamis, 22 September 2011

Ilmu pengetahuan sangat menentukan kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Dengan ilmu, harkat dan martabat seseorang bisa terangkat. (QS al-Mujadilah [58]: 11). Dan, dengan ilmu pula seseorang mudah melakukan perubahan hidupnya ke arah yang lebih baik. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa ilmu menjadi syarat utama untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hanya saja, tidak semua orang yang telah memperoleh ilmu mampu memeliharanya. Akibatnya, ia termasuk kepada kelompok orang-orang yang lupa (ghafilun). Lupa yang dimaksud bisa dalam dua hal. Pertama, lupa dalam bentuk ingatan sehingga apa yang telah ia ketahui dan pelajari tidak mampu ia kemukakan. Lupa jenis kedua adalah dalam bentuk perilaku, yaitu tidak sesuai antara apa yang ia ketahui dengan yang dilakukan.

Kedua bentuk lupa tersebut diakibatkan oleh tidak terpeliharanya ilmu sehingga ilmunya tidak memperoleh keberkahan. Karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya agar ilmu itu tetap terpelihara dan menjadi sikap batin yang memengaruhi perbuatan seseorang.

Rasulullah SAW mengemukakan lima kiat agar ilmu tetap terpelihara. Pertama, shalat malam walau hanya dua rakaat. Udara di malam hari sangat segar dan baik untuk kesehatan. Ketika seseorang sujud di waktu tahajud, maka darah yang mengandung oksigen dari udara yang segar itu akan mengalir ke sel-sel syaraf otak. Hal ini akan berdampak positif terhadap kecerdasan otak itu sendiri. Kalbu pun memperoleh ketenangan dan terhindar dari penyakit-penyakit hati.

Kedua, senantiasa dalam keadaan berwudhu (dawamul wudhu'). Setiap kali wudhu batal, maka ia segera memperbaharuinya. Intinya, ia selalu memelihara kesucian dirinya, baik secara lahiriah maupun batiniah. Imam Syafii berkata, "Aku mengeluh kepada guruku (Imam Waqi) akan jeleknya hafalanku, maka guruku menasihati untuk meninggalkan maksiat. Karena sesungguhnya, ilmu itu adalah cahaya Allah dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat."

Ketiga, senantiasa bertakwa, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi (at-taqwa fissirri wal 'alaniyah). Takwa berarti tidak bermaksiat sehingga menutup hidayah Allah. Keempat, memakan makanan yang bernilai takwa, bukan memenuhi keinginan syahwat (an ya'kula littaqwa la lisysyahawat). Makanan yang bernilai takwa adalah makanan yang halal lagi baik (halalan tayyiban).

Imam al-Ghazali mengatakan, sesuap makanan yang haram dikonsumsi seseorang akan menjadi darah yang mengalir ke otaknya sehingga otaknya cenderung berpikir pada hal-hal yang diharamkan. Akibatnya, ilmu yang merupakan cahaya Allah (nur Allah) akan terhijab karena haramnya makanan tersebut. Sebaliknya, jika makanan itu tidak bergizi, maka daya tahan tubuhnya akan mudah terserang penyakit.

Kelima, bersiwak untuk menjaga kebersihan mulut. Siwak ini tidak hanya sebatas pengertian fisik membersihkan gigi, tetapi juga menjaga kebersihan lidah untuk selalu berkata jujur, tidak bohong, dan tidak berkata kotor. Dengan kelima kiat tersebut, insya Allah, ilmu yang ada akan terpelihara dengan baik. Wallahu a'lam.

Senin, 12 September 2011

Hikmah Idul Fitri

Oleh: Ade Zaenudin, S.Ag

Dikisahkan pada zaman Rasulullah SAW ada seorang pemuda yang giat beribadah, rajin sholat, sering puasa dan suka bershodaqoh, dia bernama Alqomah. Suatu ketika dia sakit keras, bahkan sudah dalam keadaan sekarat, namun tidak kunjung meninggal dan tidak bisa mengucapkan “La ilaha illallah”. Para sahabat langsung melaporkan kejadian tersebut pada Rasulullah SAW dan Rasul pun bertanya: Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua?, Sahabat menjawab : Ada wahai Rasulullah SAW, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta.” Rasulullah SAW mengirim utusan untuk memanggilnya. Maka dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda kepadanya : “Wahai ibu Alqomah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqomah ? Sang ibu menjawab : Wahai Rasulullah SAW, dia rajin mengerjakan sholat, banyak puasa dan senang bershodaqoh.” Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi : Lalu apa perasaanmu padanya ? Dia menjawab : Saya marah kepadanya Wahai Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW bertanya lagi : Kenapa ?.” Dia menjawab : Wahai Rasulullah SAW, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan dia pun durhaka kepadaku.” Maka Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqomah sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”
Kemudian beliau bersabda : Wahai Bilal , pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.” Si ibu berkata : Wahai Rasulullah SAW, apa yang akan engkau perbuat ?.” Beliau menjawab : Saya akan membakarnya dihadapanmu .” dia menjawab : Wahai Rasulullah SAW , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku. Maka Rasulullah SAW menjawab : Wahai Ibu Alqomah, sesungguhnya adzab Allah lebih pedih dan lebih langgeng, kalau engkau ingin agar Allah SWT mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqomah, demi dzat yang jiwaku berada di Tangan Nya, sholat, puasa dan shodaqohnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya,” Maka dia berkata: Wahai Rasulullah SAW, Allah SWT sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum muslimin yang hadir saat ini bahwa saya telah ridlo pada anakku Alqomah”. Maka seketika Alqomah pun mengucapkan : La Ilaha Illallah.” Dan kemudian meninggal.
Kisah Alqamah tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa ridha dan maaf orang tua itu sangatlah penting. Terlebih bagi kita yang hampir setiap hari berbuat salah, khilaf sering membuat mereka jengkel, baik disengaja ataupun tidak. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mewanti-wanti kepada kita agar menghindari kata-kata yang menyakitkan mereka, bahkan hanya sekedar berkata “ah”.
Untuk orang Muslim, moment saling memaafkan tersebut terasa lebih kental pada saat idul fitri. Setiap Muslim saat itu saling meminta maaf bahkan dengan berbagai cara, ada yang secara langsung sambil berjabat tangan, lewat e-mail, situs jejaring sosial, SMS, Telephon dan lain sebagainya. Beragam kata pun dipilih sesuai selera, ada yang berbentuk pantun, puisi, kata-kata kocak sampai kata-kata yang sangat simpel, dengan satu tujuan saling memaafkan dan saling menyambung tali silaturahim.
Pada saat lebaran, kata minal aidzin wal faidzin menjadi sangat familiar. Ada dua kata kunci (keyword) pada kalimat tersebut, yaitu “aidzin” dan “faidzin”. Kata “aidzin” artinya “kembali” seakar dengan kata “idul” yang ada pada kata “idul fitri” yang berarti kembali kepada fitrah (kesucian), dan kata “faidzin” berarti kemenangan. Dengan demikian kalimat “minal aidzin wal faidzin” berarti “semoga kita kembali (kepada fitrah) dan mudah-mudahan kita meraih kemenangan”, bukan berarti “mohon maaf lahir dan bathin” seperti yang biasa diartikan sebagian orang.
Kegembiraan idul fitri tersebut memang terasa khas dan sangat spesial bagi masyarakat Indonesia, hal tersebut ditandai dengan tradisi “mudik” atau “pulang kampung” yang jarang ditemukan di negara-negara lain. Ini menandakan bahwa tali persaudaraan di Indonesia begitu kental dan tentu ini sangat positif karena silaturahim merupakan ajaran Islam. Nabi bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka sambunglah tali silaturahim”.
Lebaran memang bulan penuh keberkahan dan kenikmatan, bahkan kenikmatannya tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja, orang non Muslim pun banyak yang menyicipi keberkahan bulan tersebut. Sebut saja pengusaha yang berbisnis pakaian, makanan, alat transfortasi tempat-tempat hiburan dan lain sebagainya, mereka mendapatkan keuntungan luar biasa saat itu.
Ada beberapa hikmah yang bisa didapat pada hari raya idul fitri atau lebaran tersebut, diantaranya:
1. To Forgive (sarana memaafkan / meluaskan hati)
Dalam penelitian yang dilakukan Fuad Nashori pada tahun 2005, terungkap bahwa orang yang religius terbukti cenderung mudah memaafkan kesalahan orang lain. Mereka yang sering berdzikir, hatinya menjadi lembut hingga gampang memberi maaf. Seorang peneliti dari Stanford University, Amerika Serikat yang bernama Frederic Luskin pun mengungkap bahwa setelah memaafkan, kehidupan seseorang akan lebih tenang, tidak mudah marah, tidak gampang tersinggung dan lebih mudah membina hubungan baik dengan sesama.
Peristiwa saling memaafkan tersebut tentu tidak cukup hanya di mulut saja, perlu kerendahan hati ketika meminta maaf dan rasa ikhlas ketika memberi maaf, sehingga tidak ada sedikitpun serpihan-serpihan dendam atau benci yang tersisa di dalam hati, bahkan bertekad sekuat tenaga untuk tidak mengundang kembali kealfaan dan kesalahan yang bisa merenggangkan tali silaturahim.
Silaturahim tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahim itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Makna “menyambungkan” menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. “Menghimpun” biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR. Bukhari).
Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahim kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, apalagi kalau kita bersilaturahim kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya, maka
inilah yang silaturahim yang hakiki.
2. To celebrate (Sarana untuk merayakan kemenangan)
Selama satu bulan umat Muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk berpuasa, bahkan Allah SWT pun menjanjikan reward (imbalan) berbentuk kegembiraan tak terhingga bagi yang melaksanakan puasa dengan baik dan benar, yaitu ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Allah SWT nanti. Janji Allah SWT tersebut kebenarannya sudah bisa kita rasakan terutama ketika lebaran. Umat Muslim di seluruh dunia bersuka cita merayakan hari kemenangan setelah berusaha bertarung menaklukan nafsu syahwat selama satu bulan tersebut. Berbagai aktivitas diekspresikan umat Muslim untuk merayakan hari kemenangan tersebut, seperti dengan memperbanyak membaca takbir, ada yang karnaval keliling kampung, saling berkirim makanan ke sanak saudara, memakai baju baru, masak makanan spesial, shalat ied, saling berkunjung, saling berbagi bahkan muncul tradisi pulang kampung atau mudik.
Namun demikian, tidak sedikit yang merayakan hari lebaran tersebut dengan aktivitas yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti dengan tawuran, memubadzirkan harta dengan membakar petasan atau kembang api, pacaran dan lain sebagainya, dan yang lebih ironis adalah banyak orang muslim yang tidak berpuasa tapi begitu repotnya mempersiapkan perayaan lebaran, mereka pulang kampung dengan penampilan dan oleh-oleh yang luar biasa, mereka ikut bersuka cita bak pejuang yang pulang dari peperangan dengan membawa kemenangan, padahal sesungguhnya mereka sudah kalah dalam bertarung melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Naudzu billah.
3. To Give (Sarana berbagi)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan harus disempurnakan dengan membayar zakat fitrah sampai menjelang shalat idul fitri. Hal tersebut merupakan gambaran bahwa harus ada keseimbangan antara ibadah individual dan ibadah sosial, antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Tidaklah dianggap cukup seorang muslim yang rajin beribadah tanpa memperhatikan kondisi sosial di sekitarnya.
Membayar zakat fitrah merupakan kewajiban setiap orang Islam yang mempunyai kelebihan untuk biaya makan selama satu hari satu malam di hari lebaran. Dengan adanya kewajiban membayar zakat tersebut, maka akan terjalin kasih sayang antara sesama, sehingga kegembiraan di hari lebaran tersebut bisa dirasakan oleh semua lapisan umat termasuk orang-orang fakir dan miskin.
4. To Increase (Sarana peningkatan)
Setelah selesai bulan ramadhan, maka datanglah bulan syawal yang kedatangannya dirayakan dengan hari raya idul fitri. Secara bahasa “syawal” berarti peningkatan. Dengan demikian, bulan syawal merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah seorang Muslim agar lebih baik dari bulan sebelumnya. Tradisi-tradisi keagamaan yang marak dilakukan di bulan Ramadhan seperti tadarrus, shalat sunah, shadaqah dan lain sebagainya harusnya dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan pada bulan-bulan selanjutnya, bukan sebaliknya, yang tadinya rajin tadarrus bahkan berkali-kali khatam di bulan Ramadhan, justru bulan selanjutnya tidak pernah membaca Al-Qur’an lagi. Minimal ada waktu khusus yang secara konsisten dan kontinyu digunakan untuk mengkaji Al-Qur’an. Atau yang tadinya jarang shalat tahajud, menjadi rajin shalat tahajud dan lain sebagainya. Dengan demikian, secara persistent Muslim yang telah lulus berpuasa harus senantiasa meningkatkan amal ibadahnya, dan secara konsistent berusaha sekuat tenaga menjaga hawa nafsu serta meninggalkan kemaksiatan yang dibalut dengan kesenangan duniawi. Amin, Allohumma Amiin.

Selasa, 14 Juni 2011

Agama dan Survei Prematur

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar
Sumber: Kolom Hikmah Republika, Selasa, 14 Juni 2011

Pada 1990-an sebuah hasil riset di AS tidak boleh dipublikasikan. Penelitian itu menyimpulkan kecerdasan seseorang berbanding lurus dengan ras. Ras paling cerdas berdasarkan urutan adalah (1) Ras kuning, seperti orang Cina, Jepang, dan Korea. (2) Ras putih, seperti orang kulit putih Amerika dan Eropa. (3) Ras cokelat, seperti orang Arab, India, dan Pakistan. (4) Ras sawo matang, seperti orang Melayu, Thailand, Vietnam, dan Filipina. (5) Ras negroid, yaitu kulit hitam.

Pelarangan publikasi itu disebabkan oleh kesimpulan yang bisa memicu ketegangan etnis di AS. Itu artinya, orang kulit hitam yang hampir separuh di AS tidak pantas menjadi presiden karena berasal dari ras paling tidak cerdas. Kalau saja riset ini dipublikasikan, mungkin Obama tidak akan menjadi presiden AS.

Di Indonesia, sedang marak lembaga-lembaga survei dan yang disurvei pun bermacam-macam, termasuk kualitas akidah dan tingkat keyakinan seseorang terhadap agamanya. Tidak terbayang, apakah objek yang maharumit ini bisa diukur dengan survei dangkalan. Ironisnya, survei yang luar biasa susahnya ini dipublikasikan sebebas-bebasnya di dalam masyarakat sehingga kadang hasil survei ini membuat orang lain jadi shock, stres, memicu terjadinya kecemburuan, konflik, dan intoleransi.

Survei yang baru-baru ini dipublikasikan menuding meningkatnya populasi garis keras umat Islam secara tajam dan semakin meluasnya intoleransi umat Islam di dalam masyarakat. Respondennya jamaah masjid, komunitas pondok pesantren NU, dan majelis-majelis taklim. Angka-angkanya amat fantastik, sebagaimana bisa diikuti di media internet.

Apa betul umat Islam Indonesia sudah lebih radikal? Apa betul kurikulum agama kita sudah sedemikian parah sehingga harus dirombak total? Apa betul para mubaligh dan guru-guru agama kita sudah menjadi penganut Islam garis keras? Apa betul pondok-pondok pesantren dan madrasah sudah terkontaminasi aliran keras sehingga perlu di-rebrain washing? Apa betul orang menjadi teroris dan garis keras itu karena terjemahan Alquran Kementerian Agama yang rusak? Apa kebobrokan Kementerian Agama sudah sedemikian parah sehingga sudah waktunya untuk dibubarkan? Jangan sampai kita tidak sadar menjadi penari latar yang gendangnya ditabuh orang lain.

Hak intelektual setiap orang untuk melakukan survei apa saja. Namun, kewajiban intelektual juga harus diindahkan. Idealnya, setiap survei tidak boleh cacat metodologis, apalagi jika yang disurvei objeknya sensitif. Jangan sampai survei yang dilakukan by order dan by design kelompok tertentu atau hanya untuk mencari perhatian dan keterkenalan. Kita bisa mencari uang, tetapi sebaiknya tidak dengan menjual survei prematur.

Kalau objek survei itu perilaku pasar, konstituen politik, dan objek-objek measurable lainnya, tentu wajar bahkan menjadi ciri masyarakat modern. Akan tetapi, jika yang disurvei persoalan mendasar dan sensitif, seperti menyangkut kepercayaan dan harga diri etnik tertentu, sebaiknya lembaga survei itu berhitung lebih jauh untuk memublikasikan hasil surveinya. Ilmuwan ideal ialah ilmuwan yang arif, yakni tidak semua unek-unek dan hasil temuannya dilempar ke masyarakat.

Sang Dermawan

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Sumber: Kolom Hikmah Republika, Rabu, 08 Juni 2011

Siang itu, Madinah sangat ramai. Para pedagang berlarian meninggalkan dagangannya menuju jalan raya. Pengunjung pasar sudah lebih dahulu meninggalkan para pedagang dan begitu saja melemparkan barang yang sedang ditawar. Rupanya, 700 ekor unta sarat dengan barang-barang dagangan di punggung masing-masing memasuki Kota Madinah. Itulah kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat terkaya pada zaman Rasul SAW.

Suara hiruk-pikuk itu membuat kaget Ummul Mukminin Aisyah RA, yang pada saat itu sedang menyampaikan hadis Nabi. Setelah diberi tahu apa yang terjadi, Aisyah berkata: "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya bagi Abdurrahman dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat. Aku pernah mendengar Rasul SAW bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga sambil merangkak."

Seorang sahabat berlari mencari Abdurrahman untuk mengabarkan berita gembira itu. Mendengar hal tersebut, Abdurrahman segera menemui Ummul Mukminin Aisyah. "Wahai ibunda, apakah ibunda mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?" Jawab Aisyah, "Ya aku mendengar sendiri."

Abdurrahman melonjak kegirangan. "Seandainya sanggup, aku akan memasukinya sambil berjalan. Wahai ibunda, saksikanlah, seluruh unta lengkap dengan barang dagangan di punggung masing-masing, aku dermakan untuk fi sabilillah."

Subhanallah, begitulah Abdurrahman, sang dermawan. Tidak salah Nabi menyatakan Abdurrahman masuk surga dengan merangkak. Bukan karena sulitnya masuk surga, melainkan karena begitu dekatnya sehingga tidak perlu lagi berjalan, cukup merangkak. Abdurrahman tidak pernah ragu menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan dakwah.

Pada suatu kesempatan, setelah mendengarkan seruan Rasul SAW untuk berjuang dengan harta benda, Abdurrahman bergegas pulang dan kembali membawa 2.000 dinar. "Wahai Rasulullah, aku mempunyai 4.000 dinar, dan 2.000 dinar aku pinjamkan kepada Allah dan 2.000 dinar untuk keluargaku."

Rasulullah menerimanya sambil bersabda: "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta benda yang kamu berikan, dan semoga Allah memberkahi pula harta yang kamu tinggalkan untuk keluargamu."

Ketika Rasul bersiap menghadapi Perang Tabuk, beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta bendanya untuk fi sabilillah. Kaum Muslimin memenuhi seruan Nabi yang mulia itu. Dan, Abdurrahman menyerahkan 200 uqiyah emas. Melihat jumlah itu, Umar berbisik kepada Nabi: "Agaknya Abdurrahman berdosa tidak meninggali uang belanja sedikit pun untuk keluarganya." Rasul menanyakannya kepada Abdurrahman. Ia menjawab, "Untuk mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang saya sumbangkan. Yakni sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Sejak berita gembira akan menjadi penghuni surga itu, Abdurrahman semakin dermawan, semangatnya semakin tinggi dalam mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Ia juga menyumbangkan lagi 40 ribu dinar, 500 ekor kuda, dan 1.500 ekor unta untuk para pejuang.

Dia juga membagikan 400 dinar kepada setiap veteran Perang Badar yang masih hidup dan lainnya. Aisyah sering mendoakannya, "Semoga Allah memberinya minum dengan minuman dari telaga Salsabil."

Selasa, 07 Juni 2011

Kelembutan Nabi

Oleh: Prof dr Achmad Satori Ismail
Sumber: Kolom Himah Republika Senin, 06 Juni 2011

Ketika Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa'nah masuk menerobos shaf, lalu menarik kerah baju Rasul dengan keras seraya berkata kasar, "Bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang."

Umar bin Khattab RA langsung berdiri dan menghunus pedangnya. "Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya." Rasulullah SAW berkata, "Bukan berperilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik."

Tiba-tiba pendeta Yahudi berkata, "Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Tapi, aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin.

Itulah kemuliaan akhlak Rasulullah, sang teladan yang telah dipuji Allah sebagai nabi dengan akhlaknya berada di atas semua akhlak yang agung. (QS Alqalam: 3). Kelembutan dan kesabaran dijadikan sebagai manhaj dalam berdakwah. Ucapannya lembut, sikapnya lembut, dan perilakunya dalam semua aktivitas dakwahnya adalah kelembutan, kecuali sikap yang membutuhkan ketegasan, seperti dalam menegakkan //hudud dan berperang melawan kufar penyerang.

Kelembutan merupakan akhlak yang mampu mendekatkan manusia kepada Islam. Allah menjelaskan, "Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS Ali Imran 159).

Kekerasan dan perilaku anarkis akan merugikan Islam dan umatnya. Beliau selalu menyeru umatnya agar bersikap lembut. Beliau bersabda, "Sikap hati-hati (tidak tergesa-gesa), kesederhanaan, dan perilaku lembut adalah bagian dari 24 ciri kenabian." (HR at-Tirmidzi).

Rasul SAW pernah mengingatkan Siti Aisyah saat bersikap kasar. "Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan dan Allah memberi dampak positif pada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan. Dan tiada kelembutan pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan bila dicabut kelembutan dari sesuatu akan menjadikannya buruk." (HR Muslim). Rasulullah juga menegaskan bahwa barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan. (HR Muslim).

Umat Islam wajib bersikap lembut dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan. Banyak musuh-musuh Allah yang selalu memprovokasi agar umat Islam bersikap ekstrem, bertindak anarkis, dan melakukan teror.
Sikap dan perilaku tidak terpuji itu, akan menzalimi dan mendorong non-Muslim antipati terhadap Islam.

Rabu, 01 Juni 2011

Keteladanan dalam Mendidik Anak

Oleh Khofifah Indar Parawansa
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Rabu, 01 Juni 2011

Nama Luqmanul Hakim sangat popular dalam dunia Islam, karena nasihat-nasihatnya yang penuh hikmah. Bukan sekadar pesan, namun nasihatnya merupakan pendidikan seorang bapak terhadap anaknya yang penuh dengan kasih sayang serta ajaran tentang akidah dan akhlak. Karena keteladanannya dalam mendidik anak itu pula, Allah mengabadikan namanya dalam Alquran, yakni Surah Luqman.

Tentang asal-usul Luqman, ada beda pendapat di antara para ulama. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan, ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat dia berasal dari Sudan. Dan, ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim di zaman Nabi Daud AS.

Ada enam hal penting yang disampaikan Luqman kepada anaknya. Pertama, larangan mempersekutukan Allah. (QS Luqman: 13). Kedua, berbuat baik kepada dua orang ibu-bapak. (QS Luqman: 14). Ketiga, sadar terhadap pengawasan Allah. (QS Luqman: 16). Keempat, mendirikan shalat, 'amar makruf nahi mungkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan. (QS Luqman: 17). Kelima, larangan sombong dan membanggakan diri (QS Luqman: 18). Dan keenam, bersikap sederhana dan bersuara rendah (QS Luqman: 19).
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Luqman tersebut, terutama soal keteladanan seorang bapak dalam mendidik anak. Luqman menanamkan tauhid dan keimanan kepada Allah SWT, juga norma dan tata cara berhubungan dengan keluarga dan masyarakat luas. Luqman tidak hanya berbicara, tapi langsung memberikan uswah (teladan) kepada anaknya.

Urgensi keteladanan disebutkan dalam hadis nabi. "Barang siapa yang memberikan contoh baik, maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari kiamat, yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikit pun. Dan barang siapa yang memberi contoh buruk, maka baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa orang-orang yang mengikutinya." (HR Imam Muslim).

Dalam konteks sekarang, kisah Luqman perlu disosialisasikan secara terus-menerus di tengah bermunculannya kasus anak-anak yang tidak mendapatkan hak sewajarnya dalam keluarga. Mereka hidup nyaris tanpa perlindungan. Bahkan, banyak anak hidup di bawah ancaman dan kekerasan, karena orang tua lari dari tanggung jawab.
Di sisi lain, kini banyak perilaku negatif di masyarakat yang bisa mendorong anak-anak menjadi jauh dari akidah dan akhlak Islam. Tayang televisi yang kurang bermutu, serta maraknya aksi pornografi dan pornoaksi, merupakan bagian dari penyebabnya. Akibatnya, anak-anak kerap mengalami krisis keteladanan.

Untuk itu, keluarga memegang peran penting agar anak-anak menemukan keteladanan dalam hidupnya. Dari keluarga, anak menemukan tata nilai agama dan norma yang berhubungan dengan masyarakat, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Sehingga, terbentuk keluarga sakinah yang senantiasa dinaungi hidayah Allah SWT. Insya Allah.

Selasa, 31 Mei 2011

UMAR DAN UMUR

Oleh Moeflich Hasbullah
Sumber: Kolom Hikmah Republika
Sabtu, 28 Mei 2011

Umar bin Khattab (581-644) adalah khalifah yang telah membentangkan pengaruh Islam di sejumlah wilayah yang berada di luar Arab Saudi. Di masanya, Mesopotamia, sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, dan Armenia, jatuh ke dalam kekuasaan Islam.

Kekuatan sebagai pemimpin sangat luar biasa, hadir berkat tempaan sang pemimpin agung, Muhammad Rasulullah SAW. Namun, dibalik kesuksesannnya sebagai pemimpin negara, Umar tetaplah seorang pribadi yang sangat sederhana.

Suatu hari, anak laki-laki Umar bin Khattab pulang sambil menangis. Sebabnya, anak sang khalifah itu selalu diejek teman-temannya karena bajunya jelek dan robek. Umar lalu menghiburnya. Berganti hari, ejekan teman-temannya itu terjadi lagi, dan sang anak pun pulang dengan menangis.


Setelah terjadi beberapa kali, rasa ibanya sebagai ayah mulai tumbuh. Tak cukup nasihat, anak itu meminta dibelikan baju baru. Tapi, dari mana uangnya? Umar bingung, gajinya sebagai khalifah tidak cukup untuk membeli baju baru. Setelah berpikir, ia pun punya ide. Umar menyurati baitul mal (bendahara negara).

Isi surat itu, (kira-kira bunyinya begini): "Kepada Kepala Baitul Mal, dari Khalifah Umar. Aku bermaksud meminjam uang untuk membeli baju buat anakku yang sudah robek. Untuk pembayarannya, potong saja gajiku sebagai khalifah setiap bulan. Semoga Allah merahmati kita semua."

Mendapati surat dari sang Khalifah Umar, kepala baitul mal pun memberikan surat balasan. Bunyinya, kurang lebih begini: "Wahai Amirul Mukminin, surat Anda sudah kami terima, dan kami maklum dengan isinya. Engkau mengajukan pinjaman, dan pembayarannya agar dipotong dari gaji engkau sebagai khalifah setiap bulan. Tetapi, sebelum pengajuan itu kami penuhi, tolong jawab dulu pertanyaan ini, dari mana engkau yakin bahwa besok engkau masih hidup?"

Membaca balasan surat itu, bergetarlah hati Umar. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Umar tidak bisa membuktikan bahwa esok hari ia masih hidup. Ia sadar telah berbuat salah. Ia bersujud sambil beristigfar memohon ampun kepada Allah.

Setelah memohon ampun, ia pun memanggil anaknya. "Wahai anakku, maafkan ayahmu. Aku tak sanggup membelikan baju baru untukmu. Ketahuilah, kemuliaan seseorang bukan diukur dari bajunya, melainkan dari kemuliaan akhlaknya. Sekarang, pergilah engkau ke sekolah, dan katakan saja kepada teman-temanmu bahwa ayahmu tak punya uang untuk membeli baju baru."

Alangkah luar biasanya perhatian dan kewaspadaan seorang pemimpin dan bawahan. Mereka saling memberikan nasihat dan peringatan. Kisah ini menohok kesadaran kita tentang perilaku para pemimpin sekarang di negeri ini.

Alih-alih mengutamakan kesederhanaan dan kemuliaan akhlak, mereka malah saling berebut kekuasaan dan memperkaya diri dengan perilaku korup. Semua itu dilakukan tanpa rasa bersalah. Bahkan, antara atasan dan bawahan saling menutupi kesalahan satu sama lain. Tak heran bila Allah menimpakan azab demi azab (bencana) untuk menyadarkan kita agar senantiasa takut kepada-Nya. Wallahu a'lam.

Sabtu, 21 Mei 2011

Sang Kepala Negara

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Sumber : Kolom Hikmah Republika
Sabtu, 30 April 2011

Beberapa kali Abdurrahman bin Auf menyaksikan Umar shalat sunah di rumahnya. Yang menarik perhatiannya, bukanlah tata cara shalatnya, melainkan sajadah yang biasa digunakan Umar. Seorang kepala kegara dengan wilayah kekuasaan yang membentang luas sampai Mesir, berhasil mengalahkan dua imperium besar, Romawi Timur dan Persia, justru shalat di atas sajadah yang usang. Timbul rasa bersalah dalam hati Abdurrahman. Ia ingin membelikan sajadah baru yang mahal dan indah untuk sang Amirul Mukminin.

Tetapi, Abdurrahman ragu, apakah Umar mau menerimanya. Dia tahu persis watak Umar yang tidak mau diberi hadiah apa pun walau hanya selembar sajadah.


Abdurrahman akhirnya memberikan sebuah sajadah melalui istri Umar, Ummu Abdillah. Melihat sajadah baru, Umar memanggil istrinya dan menanyakan siapa yang memberi sajadah ini. "Abdurrahman bin Auf," jawab istrinya. "Kembalikan sajadah ini kepada Abdurrahman. Saya sudah cukup puas dengan sajadah yang saya miliki." Begitulah watak Umar bin Khattab. Tidak hanya adil dan bijaksana, beliau dikenal dengan sifat zuhudnya, hidup sederhana. Tidak hanya untuk ukuran seorang kepala negara, bahkan bagi orang biasa sekalipun.

Suatu hari, Umar melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur, "Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh rakyatmu?"

Dengan gugup, sang gubernur menjawab, "Tentu tidak, wahai Amirul Mukmini. Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda." Umar lantas berdiri dan bersuara keras, "Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini, baru saya akan memakannya." Itulah sifat Umar bin Khattab, seorang kepala negara yang zuhud.

Di lain kesempatan, sehabis shalat Zhuhur, Umar meminta selembar permadani Persia yang indah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tentu saja, hal ini membuat para sahabat heran. Hari itu, Umar bin Khattab membagi harta rampasan perang yang dibawa oleh pasukan Sa'ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan Kota Madain, ibu kota imperium Persia.

Pakaian kebesaran Kisra lengkap dengan mahkotanya diberikan oleh Umar kepada seorang Badui yang kemudian memakainya dengan gembira. Satu demi satu barang-barang berharga dibagi-bagikan oleh Umar kepada para sahabat dan masyarakat banyak waktu itu. Yang tersisa hanya selembar permadani indah. Umar pun memintanya. "Bagaimana pendapat kalian, jika permadani ini aku bawa pulang ke rumahku?" Gembira bercampur kaget, para sahabat tergopoh-gopoh menyetujuinya. "Tentu saja wahai Amirul Mukminin, kami setuju sekali Anda membawanya pulang."

Ketika tiba waktu Ashar, Umar membawa kembali permadani tersebut. Kali ini, permadani itu sudah dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil, dan Umar membagikan kepada beberapa sahabatnya. Dengan senyum, Umar berkata, "Hampir saja saya tergoda oleh permadani indah ini." Masya Allah, begitulah Umar, sang kepala negara.